Ajal dan keluarga
Hari ini entah kenapa tiba-tiba ayah mendekatiku dan mengelus kepalaku, ketika kutanyakan kenapa, ayah bilang tidak apa-apa. Namun aku melihat mata ayah berkaca-kaca, jujur hingga saat aku menuliskan ini air mataku terus mengalir entah kenapa aku merasa sangat sedih namun aku tak tahu kenapa.
(Lanjutan tulisan ini setelah beberapa bulan)
Setelah beberapa kejadian yang terjadi disekitarku aku mulai sadar apa penyebab pada hari itu aku menangis.Aku takut kehilangan orang tuaku, itulah alasanku menangis pada saat itu.
Telah banyak orang-orang disekelilingku yang menjumpai ajalnya, bukan hanya orang-orang yang kukenal bahkan ada beberapa yang menjadi orang terdekatku. Hingga aku berfikir, keluargaku masih lengkap, tidak kehilangan seorangpun. Bagaimana perasaan kami nanti kalau kami ditinggal oleh orang-orang terdekat kami. Apakah aku akan menangis meronta-ronta atau aku akan menangis namun tetap tenang. Tak ada yang tau bagaimana ekspresi kita pada saat ditinggal orang-orang terdekat kita.
Hingga beberapa waktu yang lalu kakak atau bahkan bisa dianggap teman terdekatku kehilangan ibunya, dan pada hari itu aku berpesan kepadanya. "Jangan pernah merasa memiliki karena sejatinya apa yang ada pada kita semuanya hanyalah titipan, jadi apabila sewaktu-waktu sang pemilik ingin mengambilnya kita harus ikhlas. Boleh bersedih tapi bersedihlah sewajarnya, setelah itu kau tetap harus melanjutkan hidupmu", Pesanku padanya.
Namun satu do'aku, aku berharap kelak hal itu terjadi, aku akan tetap menjaga imanku, dan dapat melakukan seperti apa pesanku kepadanya dan menyiapkan diri dari sekarang. Entah aku atau anggota keluargaku yang akan menemui ajalnya.
Komentar
Posting Komentar